When are you really finished with a PhD?

The Thesis Whisperer

Lauren Gawne was a PhD student in the School of Languages and Linguistics at the University of Melbourne. She wrote this post while she was in ‘examination limbo’ has now received her examiners reports back and found out she has passed. When she isn’t working on the grammar of Yolmo and making bets about how long it will be until her examiners reports come back she can be found writing at Superlinguo.

sunset picI submitted my thesis a while ago.

I’m not telling you this to make you jealous, just more as a point of fact. It was a lovely excuse for a Monday afternoon drink with friends and colleagues. I felt pretty happy about it, and rather proud of the small bundle of bound copies that signify four years of work.

For all that though, it was difficult to answer people when they asked me how I felt

Lihat pos aslinya 615 kata lagi

How to be a trainer ??

Setiap individu mempunyai banyak keinginan.  Tidak terlepas dari itu, menjadi seorang trainer adalah suatu kebanggaan tersendiri bagi diri seseorang. Trainer yang profesional adalah pelatih yang mampu untuk mengarahkan, memberikan motivasi serta mempengaruhi orang lain untuk mengerjakan sesuatu sesuai dengan instruksi yang ditentukan. Gambar

Seorang trainer, akan lebih mampu untuk mengeksplorasi ide yang lebih luas daripada seorang yang biasa-biasa saja atau bukan trainer.  Mampu atau tidaknya seseorang menjadi trainer diukur dari keasahan ketrampilannya, pengetahuannya, pengalamannya, serta interaksi sosial yang ia lakukan.

HOW TO BE A TRAINER ??Gambar

 

Seorang trainer harus bisa menjadi fasilitator bagi yang dilatihnya. Dari pernyataan ini, muncul sebuah pertanyaan “apa sih bedanya guru dan pelatih itu?”. Guru dan pelatih memang memiliki persamaan yaitu mengajarkan dan memberikan ilmu pengetahuan. Akan tetapi seorang guru hanya akan memberikan pengetahuan dan pembelajaran sebatas teori  walaupun ada juga yang memberikan sedikit praktik dan tidak terlalu spesifik dalam pengaplikasian dilapangan. sedangkan untuk seorang pelatih, disamping pemberian motivasi dan pembelajaran, ia juga mengarahkan kepada peserta didiknya untuk mampu mengaplikasikannya dengan cara yang lebih spesifik dan berkembang. 

Menjadi fasilitator harus memiliki kemampuan memacu, mengarahkan, mengambangkan serta mengeksplorasi ide menjadi sesuatu yang luas dan berinovasi. Fasilitator tidak hanya sebatas memberikan pelatihan saja, akan tetapi memiliki kewajiban untuk mengawasi dan mengevaluasi kinerja yang telah dilakukan.

Tanggung jawab seorang trainer atau pelatih memang sangatlah berat. Mengapa demikian? …..Disamping ia telah dipercaya untuk menjadi seorang fasilitator bagi orang lain, ia juga tidak lepas dari pelatihan untuk dirinya sendiri. Pelatihan yang khusus bagi diri sendiri akan menunjukkan hasil yang maksimal dan dinilai mampu untuk memberikan hasil pelatihannya tersebut kepada orang lain.Gambar

GambarContohnya seorang penulis buku yang profesional, telah dipercaya untuk menjadi trainer bagi pemula di sebuah sekolah menengah atas. Ia memang telah mempersiapkan dirinya sejak awal agar usahanya dalam mengarahkan kepada sasaran tidak lepas dari tujuan yang diharapkannya. Ia mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi jika ia kurang berhasil untuk memfasilitatori sasarannya tersebut dengan terus berlatih, mengeksplor pengetahuannya lebih luas lagi serta mengasah kemampuannya lebih mendalam. Hal ini ia lakukan dengan tujuan apapun tantangannya dalam memberikan pelatihan dapat diantisipasi lebih dini serta dapat lebih maksimal dalam memberikan pelatihan kepada sasarannya.

so, be a trainer now,, asahlah kemampuanmu, perluas eksplorasimu, dan tingkatkan ide kreatifmu …. 🙂Gambar

How NOT to hand in your PhD

The Thesis Whisperer

Carina Wyborn recently completed her PhD at the ANU and is now based at College of Forestry and Conservation at the University of Montana. Carina wrote the story of handing in her PhD for her blog “The pacific exchange” and sent it to me. I loved it and asked if I could cross post here. A cautionary tale indeed! Congratulations on finishing Carina 🙂

So… It finally happened, I submitted my PhD last week. Feels surreal, amazing, and totally normal all at the same time. But I thought I’d just share the hilarity of the day for posterities sake. I really wish somebody had been following me around that day with a camera, because it would have made for some awesome time-laps photography.

file781242322307I was back in Canberra for one week to attend the Society for Human Ecology’s 14th International Conference and to submit my thesis. Unsurprisingly, the thesis…

Lihat pos aslinya 736 kata lagi

MDGs, what’s that ?

Gambar

MDGs atau Millenium Development Goals adalah sebuah konsep yang bertujuan untuk pembangunan sebagai upaya pencapaian kesejahteraan masyarakat. Cakupan MDGs pada tahun 1990-2013 adalah sebagai berikut :

1.            Pemberantasan kemiskinan dan kelaporan ekstrim,Gambar

2.            Tercapainya pendidikan dasar secara universal,Gambar

3.            Pengutamaan kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan,Gambar

4.            Pengurangan kematian anak balita,Gambar

5.            Perbaikan kesehatan ibu,Gambar

6.            Peperangan terhadap HIV/AIDS, malaria dan penyakit menular lainnya,Gambar

7.            Kepastian keberlanjutan lingkungan, danGambar

8.            Pengembangan kemitraan global untuk pembangunan.Gambar

Delapan cakupan diatas saling terkait satu sama lainnya, dan semuanya berfungsi untuk mencapai dunia sehat dan sejahtera. Di Indonesia cakupan MDGs ini selaras dengan UUD 1945 yang intinya mensejahterakan rakyat.

Kesehatan merupakan hal yang paling utama dalam pengembangan suatu wilayah. Jika masyarakat dalam wilayah tersebut sehat, maka kesejahteraan wilayah akan terjamin dan tercapai. Dalam hal ini, kesejahteraan rakyat merupakan hal yang serius dalam permasalahan negara. Bukan hanya itu dalam pembangunannya juga diperlukan sebuah konsep yang dapat memajukan hidup masyarakat.

Dalam kesehatan masyarakat, cakupan MDGs sangat penting untuk mendukung metode dasar bagi promosi kesehatan, manajemen kesehatan, serta bidang terkait lainnya yang merujuk pada pencapaian tujuan MDGs. Rendahnya tingkat pengetahuan masyarakat memerlukan sebuah bimbingan serta motivasi untuk masyarakat itu sendiri dalam upaya pancapaian MDGs.

sumber tulisan : http//www.google.com/MDGs

MDGs target 6 “COMBAT HIV/AIDS, MALARIA AND OTHER DISEASES”

Tujuan keenam dalam MDGs menangani berbagai penyakit menular paling berbahaya.  Pada urutan teratas adalah Human Immunodeficiency Virus (HIV), Acquired Immuno Deficiency Syndrome (AIDS), malaria serta penyakit lainnya. Menurut data WHO, 2013 target 6 ini telah didapat pecapaian sebagai berikut :

Target 6A. Usaha Penghentian HIV/AIDS ditargetkan sampai tahun 2015

Target 6B. Pada tahun 2010 telah dicapai akses universal untuk pengobatan HIV / AIDS bagi semua orang yang membutuhkannya.

 HIV / AIDS

HIV masih menjadi ancaman utama, seperti yang dapat kita amati terjadi di tempat lain.  Di negara-negara lain, penularan awalnya menyebar dengan cepat di antara dua kelompok berisiko tinggi, yaitu para pengguna Narkotika, Psikotropika dan Zat Aditif Lainnya (Napza) suntik (penasun) dan pekerja seks.  Dari sana HIV menyebar ke penduduk lainnya sehingga menyebabkan ”epidemi yang menyebar ke populasi umum (generalised epidemy)”.

Di Indonesia, penularan memang masih terkonsentasi pada dua kelompok tersebut, namun di beberapa wilayah sudah terlihat kecenderungan bahwa epidemi ini akan menyebar ke populasi umum, yaitu penyebaran dari pengguna napza suntik ke pasangan seksnya.

 Target 6C. Membalikkan tingkat penyebaran malaria dan penyakit utama lainnya. Ditargetkan 2015 akan terhenti

 MalariaGambar

Di seluruh dunia, 3,3 miliar orang berisiko tertular malaria. Strategi yang direkomendasikan WHO untuk mengatasi malaria termasuk:

ü  pencegahan dengan jaring insektisida tahan lama dan indoor residual spraying;

ü  tes diagnostik dan pengobatan dengan obat-obatan anti-malaria kualitas terjamin;

ü  terapi pencegahan untuk bayi, anak-anak dan wanita hamil;

ü  pelacakan setiap kasus malaria dalam sistem surveilans;

ü  scaling up melawan muncul obat dan resistensi insektisida.

 Tuberculosis

WHO bekerja untuk memerangi epidemi melalui Strategi Stop TB. Strategi enam poin ini berusaha untuk:

ü  mengejar perluasan dan peningkatan DOTS berkualitas tinggi;

ü  berkontribusi pada penguatan sistem kesehatan didasarkan pada perawatan kesehatan primer;

ü  melibatkan semua penyedia layanan;

ü  memberdayakan orang dengan TB, dan masyarakat melalui kemitraan, serta

ü  mengaktifkan dan mempromosikan penelitian.

 Gambar

Sumber tulisan : http://www.who.int/topics/millennium_development_goals/diseases/en/